Vrydag 10 Mei 2013

Ketika Waktu Berhenti (Sinopsis Novel)


Mungkin aku adalah wanita paling malang di muka bumi ini. Tak punya impian dan tak berani berharap akan masa depan yang cerah. Seluruh hidupku telah hancur dan takkan bisa diselamatkan lagi.
Usiaku sudah menginjak angka 29 dan aku akan tetap di sini, meratapi nasib dalam kubangan lumpur yang menghisap. Menyesapi luka sendirian, tanpa seorang pun mengulurkan lengan untuk tempatku berlabuh. Aku tamat. Duniaku sudah kiamat. Sejak aku bersedekap dengan kisah laknat.
Sejak SMU hingga kuliah, aku tergabung dan aktif di salah satu kelompok musik di kotaku. Setiap akhir pekan kami akan berkumpul di sanggar dan latihan. Tak jarang, kelompok kami berhasil mengharumkan nama kota dengan memperoleh berbagai penghargaan.
Aku termasuk anggota yang aktif dan rajin latihan. Selain karena kesukaanku yang memang begitu besar terhadap musik, ada alasan lain yang menambah semangatku. Di dalam kelompok itu, ada seseorang yang berhasil mencuri hatiku sejak lama. Namanya John.
Seorang pria berparas elok dan tenang, pendiam dan berwibawa. Sosok yang semakin bersahaja dimataku setiap kali melihat jemari lembutnya menari di tuts-tuts piano. Ia sangat sering menggodaku untuk bertukar alat musik, karena ia beranggapan bahwa tubuhku terlalu mungil dan ringkih untuk meniup saxophone.
Wajahku akan merona merah setiap mendengar godaannya. Dia tak perlu khawatir, sekalipun badanku kecil, aku tak pernah kehabisan nafas untuk meniup saxophone keemasan milikku. Nafasku telah dibalut arus cinta yang deras, kuat dan membahana.
Gayung bersambut, perasaanku pun berbalas. Di suatu sore berhujan, John menyatakan perasaannya kepadaku. Sama sekali tak kubutuhkan waktu lebih dari tiga detik untuk menerima uluran kasihnya.
Setahun bersama John, hidupku terasa semakin berwarna dan sumringah. Tak pernah ada lara, yang ada hanyalah tawa. Mungkin karena pengaruh hidup di ibukota atau memang kehilangan akal sehat, hubunganku dan John pun semakin erat. Terlalu erat, terlalu dalam dan terlalu intim.
Hingga suatu hari aku mendapati bahwa hubungan kami telah berbuah. Aku mengandung. Rasa cemasku semakin menjadi-jadi saat kudapati reaksi John yang kaku dan dingin mendengar pengakuanku. Ia menatapku dalam, tanpa berkata sepatah kata pun, lalu beransjak meninggalkanku sendirian.
Rasa takut dan penyesalan bercampur menjadi satu. Kalau saja Tuhan mau mencabut nyawaku saat itu juga, mungkin akan jauh lebih baik. Aku menangis selama berhari-hari. Sebutir nasi pun tak masuk ke dalam perutku. Aku, seorang mahasiswi semester enam, hamil di luar nikah.
Kondisi kesehatanku merosot drastis. Selama dua pekan, aku harus mendapatkan perawatan di Rumah Sakit. Di tempat itu, neraka pun semakin menunjukkan taringnya. Dokter memberitahu perihal kehamilanku kepada kedua orangtuaku. Tak bisa kugambarkan bagaimana perihnya hati menyaksikan Mama yang berteriak-teriak histeris sembari menarik-narik rambutnya. Papapun menampar wajahku beberapa kali. Belum lagi saudaraku yang menumpahkan sumpah serapah.

Hatiku hancur berkeping. Mereka mungkin terluka karena aku telah mencorengkan aib di wajah keluarga. Tapi adakah mereka paham perasaanku? Penyesalanku karena telah salah melangkah, ditambah dengan sikap John yang sepertinya tak menyukai kabar yang kusampaikan, sudah lebih dari cukup sebagai pedang yang menghunus dan merobek perutku.
Beberapa hari kemudian setelah kesehatanku pulih, aku pun memantapkan langkah menuju rumah John. Di kawasan pusat kota, dengan ukuran beberapa kali lipat dari rumahku. Seorang pembantu rumah tangga membukakan pagar dan mempersilahkanku masuk. Hampir setengah jam aku menunggu di ruang tamu yang luas dan dingin, sebelum kemudian terdengar suara langkah mendekat.
Seorang wanita berusia kira-kira 50-an, dengan pakaian trendi dan tampak mahal. Matanya yang angkuh, ditambah kedua lengan yang terlipat di dada, jelas-jelas menyiratkan sikap rejection. Di belakangnya, seorang laki-laki tampan mengikuti dengan langkah ragu. John.
Tak lebih dari 10 menit aku berada di rumah itu, karena sang nyonya berteriak-teriak mengusirku. Demi anak yang hidup dalam diriku, kubuang jauh-jauh segala ego dan gengsi yang ada. Perlahan, kujatuhkan diriku dan berlutut di hadapan Ibu John, mengharap belas kasihannya kepadaku.
Luka hatiku semakin menganga, saat kudapati John hanya menunduk dan tak berbuat apa-apa. Sama sekali tak membelaku di hadapan Ibunya.
Belum lagi airmataku mengering, dua minggu kemudian tiba-tiba saja seorang sahabat muncul di depan pintu rumahku. Menghadiahiku sebuah kabar yang lebih mengerikan dari maut. Katanya, John akan menikah dengan seorang wanita yang usianya 15 tahun lebih tua. Wanita itu merupakan salah satu pengusaha kaya di kotaku.
Mungkin, dosaku sudah tak terampuni lagi hingga Tuhan memberikanku cobaan seberat ini. Lagi-lagi aku harus mendapat perawatan intensif. Aku keluar dari Rumah Sakit sehari sebelum pernikahan kekasihku.
Di hari yang paling menyakitkan itu, dengan langkah setegap pahlawan yang berjuang di medan perang, aku mengayunkan kaki ke tempat resepsi pernikahan John. Dari jauh, mataku sudah menangkap keramaian dan kemewahan yang angkuh. Jantungku berdetak sangat kencang.
Dengan berkali-kali menyebutkan nama Tuhan, kuseka airmata dan akupun memasuki ruangan. Di atas pelaminan, John terlihat semakin tampan dengan setelan jas berwarna putih. Di sampingnya, berdiri seorang wanita menor yang lebih pantas menjadi tantenya.
Wajah John seketika pias dan tubuhnya menegang, ketika matanya menangkap bayanganku yang berjalan mendekat ke pelaminan. Ibu John menyeracau, namun tak kuindahkan. Banyak mata menancap tajam di tubuhku. Termasuk anggota kelompok musik tempatku dulu bergabung.
Langkahku terhenti persis di hadapan John. Matanya menatapku dalam, seolah berteriak minta tolong. Cepat-cepat kutengadahkan kepala agar airmataku tak luruh. Ketika Ibu John kembali meneriakkan sebuah kalimat yang tak kudengar dengan jelas, kudekatkan wajahku ke wajah John, lalu kucium bibirnya lembut.
“Kau telah menyia-nyiakan darah dagingmu. Oleh karena itu, aku bersumpah bahwa kau takkan memiliki keturunan dari perempuan tua ini,” teriakku sebelum aku berlari kencang meninggalkan John dan semua orang.
Setelah kejadian itu, orangtuaku memerintahkan agar aku menggugurkan kandungan, lalu aku akan didaftarkan sebagai seorang biarawati yang akan menghabiskan sisa hidup di balik tembok tinggi biara. Tak ada pilihan lain, aku pun setuju.
Pagi-pagi buta, beberapa jam sebelum dijadwalkan untuk dikuret, aku membuat sebuah keputusan besar dalam hidup. Sudah cukup aku berbuat kesalahan fatal dengan John. Kini, aku tak ingin membuat dosa yang lebih besar lagi. Aku sudah bertekad, akan melahirkan dan membesarkan anakku.
Beberapa bulan kemudian aku melahirkan dengan normal. Anakku perempuan, cantik dan montok. Bola matanya berwarna hitam legam, persis seperti milik John. Sebulan kemudian, setelah kondisiku membaik, aku memilih sebuah kota di Sumatera untuk tempatku membuka lembaran baru. Anakku, tetap kutinggalkan di ibukota, dirawat oleh kedua orangtuaku.
Kini anakku, Liz, telah berusia 5 tahun. Setiap empat bulan sekali aku usahakan ke ibukota untuk mengunjunginya. Dia tumbuh semakin menggemaskan, aktif dan sangat pintar. Tak jarang aku menangis saat mendapati Liz keseleo lidah menyebutku dengan ‘tante.’ Mungkin karena tidak terbiasa dengan sebutan ‘Mama.’ Pernah juga aku sedih ketika mengunjunginya, kubawakan dia hadiah sepasang sepatu yang cantik. Ternyata, sepatu itu kekecilan di kakinya. Ya Tuhan, Ibu seperti apa aku, tidak tahu ukuran kaki anak kandungku? Aku dan Liz sama-sama menitikkan airmata, ketika sepatu indah itu terpaksa kami hadiahkan kepada anak tetangga yang ukuran kakinya lebih kecil.
Selama lima tahun di Sumatera, aku berkenalan dan dekat dengan seorang laki-laki. Namanya Gio. Tidak terlalu tampan, namun memiliki hati yang lembut. Merasakan kebaikannya, rasa percaya diri dan harapan mulai tumbuh kembali di hatiku.
Ternyata alam berkata lain. Saat suatu hari membantuku pindah kontrakan, Gio ternyata menemukan buku sakuku. Di dalamnya berisi puisi-puisi kerinduan, lengkap dengan foto-foto Liz. Bahkan, kusisipkan selembar foto John di dalamnya.
Kuakui, hingga kini aku masih memendam cinta yang begitu besar terhadap John. Mengenangnya, membuat waktu di sekitarku seolah berhenti dan menggantung dalam keabadian. John, kekasih hatiku, Ayah dari anak semata wayangku.
Gio menuntut pengakuan. Mendengarkan penuturanku bahwa ternyata aku bukanlah seorang gadis tapi sudah memiliki seorang anak di luar nikah, lelaki itu menangis dan memelukku erat. Namun, cinta Gio masih bersyarat. Katanya dia bisa menerimaku apa adanya, namun tidak dengan Liz. Aku kecewa. Bagaimanapun Liz adalah urat nadi dan denyut jantungku. Jika Gio tidak bisa menerima Liz, itu berarti dia juga tak bisa menerimaku apa adanya. Berat memang, tapi sore itu juga aku memutuskan hubungan dengan Gio.
Bulan lalu, Liz berulangtahun yang ke enam. Senang sekali rasanya melihat anakku berceloteh tak henti-henti mengenai perayaan ulang tahunnya. Malam harinya, ponselku berdering singkat, menghantarkan sebuah pesan.
Selamat ulang tahun buat Liz, anakku yang cantik. Semoga Tuhan memberkati dan menjadikanmu sebagai anak yang berbakti. Maaf, saat ini Papa tidak bisa mendampingi kamu. Tolong jaga Mama baik-baik. Suatu hari, kita bertiga pasti akan berkumpul kembali,” dari John. Aku terperangah. Bagaimana John bisa tahu nomor ponselku yang baru? Darimana juga dia tahu kalau anak kami kuberikan nama Liz dan ternyata kubesarkan? Tiba-tiba kepalaku berdenyut.
Hari bergerak cepat. Angka-angka di kalender berlompatan tanpa mau melihat ke belakang barang sesaat. Satu tahun lagi berlalu. Kini Liz telah berseragam putih merah dan sudah mulai bisa membaca.
Ini adalah jadwalku untuk mengunjungi Liz di ibukota. Sangat besar sesungguhnya keinginanku untuk memboyong Liz ke Sumatera dan menyekolahkannya di sana. Namun aku belum siap dengan pandangan orang-orang. Selama ini, lingkunganku mengetahui aku sebagai seorang gadis yang belum menikah.

Tak jarang aku merasa sebagai manusia yang paling bodoh. Aku bekerja banting tulang, namun hasilnya sama sekali tak berarti. Penghasilanku memang sepenuhnya untuk memenuhi kebutuhan Liz, tapi apa artinya kalau hatiku kosong? Setiap hari aku selalu membunuh waktuku dengan sengaja kerja lembur. Pulang larut malam, tidur, lalu esoknya berangkat ke kantor lagi. Selalu begitu.
Kalau saja Liz ada di dekatku, hidupku takkan semonoton ini. Liz pasti akan menyambut dan menghilangkan kelelahanku dengan celoteh-celoteh riangnya. Akupun pasti akan bersemangat setiap kali melihat wajahnya yang damai dalam tidur. Tuhan, sebenarnya apa yang kuinginkan? Entah kenapa, hingga kini aku masih terlalu takut untuk memikirkan penilaian orang tentang statusku. Sampai-sampai aku harus mengorbankan Liz. Membiarkannya melewati masa pertumbuhan golden age tanpa adanya sosok Ayah dan Ibu di dekatnya. Sebenarnya, pantaskah aku menjadi seorang Ibu?
Hari ini malam sudah merambat dan hujan turun sangat lebat. Rumah sepi, seperti juga hatiku yang melompong. Tak tahu kenapa, aku merasa sangat merindukan John. Sampai-sampai nafasku sesak dan dadaku nyaris meledak. Aku menangis sejadi-jadinya.
Mungkin akumulasi kerinduan yang kutimbun selama lebih dari tujuh tahun. Tanpa bisa kucegah, lenganku telah meraih ponsel dan menekan sederet angka yang masih tersimpan jelas di memori otakku.
Pada deringan ketiga, hubungan tersambung. Gendang telingaku kembali disapa suara John yang berat dan berwibawa. Kutumpahkan segala rasaku padanya. Mulai dari kemarahan, kekecewaan, hingga kerinduan. John menjawab hal yang sama. Lelaki itu menangis, seraya menghujaniku dengan kata-kata cinta.
John mengaku masih sangat mencintai dan merindukanku. Setiap malam selama bertahun-tahun, dia tak pernah melepaskan wajahku dari ingatannya. Bahkan saat dia sedang bersama isterinya.
Lima belas menit kemudian kami mengakhiri pembicaraan. Tenyata, hingga kini John masih belum memiliki anak. Apakah Tuhan mengabulkan sumpahku saat pernikahan mereka dulu? Aku tak tahu apakah harus berdecak puas atau justru menyesal. John adalah belahan hatiku. Kalau dia terluka, akupun akan ikut berdarah.
Pagi menjelang, pelupukku tak lagi memompakan air. Sudah kering, sekalipun kutahu luka hatiku takkan pernah mengering. Saat John menyatakan cinta padaku bertahun-tahun lalu, waktu seketika berhenti dan mengurungku dalam ruang penuh cahaya dan imaji. Selalu begitu. Setiap kali merindukannya, aku akan berdiri di luar dimensi waktu. Masih tetap berlaku hingga kini. Hanya saja, kalau  sekarang aku mengingat John, perhentian waktu itu telah bergeser. Aku tak lagi dikurung ruang bercahaya, namun diselubungi cadar kelam penuh luka.
Kuhembuskan nafas panjang. Bergegas, aku mandi dan bersiap ke kantor. Di cermin, kupandangi bayangku lama. Ada yang berubah. Perlahan, cahaya dalam mataku mulai kembali, seperti saat dulu aku belum terjebak nafsu dengan John.
Pagi ini, aku merasa terlahir kembali. Ada semangat baru menjalari hatiku.
“Liz, tunggu. Mama akan menjemputmu,” suaraku tegas..

Geen opmerkings nie:

Plaas 'n opmerking